Stop Bullying

Akhir-akhir ini di media sosial sedang ramai membahas bullying. Bullying ini sebenarnya kata yang berasal dari bahasa Inggris. Merujuk pada Kamus Bahasa Indonesia ke Inggris, arti kata bully adalah perundungan. Namun, penggunaan kata perundungan sepertinya tidak populer dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat awam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-5, rundung memiliki arti sebagai berikut:

run.dung

[v], m.run.dung v (1) mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru; (2) menimpa (tt kecelakaan, bencana, kesusahan, dsn): ia tabah atas kemalangan yang telah ~nya.

Perundungan artinya suatu perlakuan yang mengganggu, megusik terus-menerus dan juga menyusahkan. Jadi bully adalah kata serapan atau biasa disebut dengan kata pungutan atau pinjaman yaitu kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang telah terintegrasi ke dalam bahasa Indonesia dan telah diterima luas oleh masyarakat umum.

Sepertinya berita soal bullying selalu terus muncul. Pekan lalu ada beberapa berita mengenai bullying yang viral di media sosial. Berita pertama adalah bullying yang dilakukan oleh siswi SMP terhadap siswi kelas VI SD yang berlokasi di Thamrin City. Kejadian tersebut berawal karena adu mulut yang entah akar masalahnya disebabkan oleh apa. Dalam video yang viral, disebutkan dua orang pelaku menganiaya korban hingga jatuh tersungkur ke lantai. Saya menonton videonya terkejut, karena si pelaku menjambak rambut korban dengan cara membabi buta. Apakah dia tidak berpikir jika dia di posisi korban dan merasakan bagaimana sakitnya dijambak sedemikian rupa? Apakah dia tidak berpikir jika pihak sekolah dan orangtua akan tahu mengenai hal ini? Sekarang apa jadinya? Pelaku sudah dikeluarkan dari sekolah. Bukannya meraih prestasi sebanyak mungkin, dia malah membuat orangtuanya malu.

Kemudian berita bullying yang juga viral adalah, segelintir mahasiswa di salah satu universitas di Depok mem-bully temannya yang autis. Saya tidak habis pikir, mengapa masih ada orang yang setega itu mem-bully orang yang berbeda dari dia. Apakah mereka tidak diajarkan bahwa sebagai manusia makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna wajib memperlakukan manusia secara manusiawi? Jangankan sesama manusia, dalam ajaran agama saja kita diajarkan untuk mengasihi makhluk hidup lainnya. Apakah mereka tidak berpikir bagaimana susahnya, ribetnya, sebesar apa pengorbanan orangtua membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus ini? Menyandang status sebagai mahasiswa ternyata tidak cukup mengubah seseorang untuk berperilaku santun.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, kira-kira hal apa sih yang menyebabkan pelaku ini tega memojokkan seseorang yang mereka anggap berbeda dari dia untuk dijadikan bahan candaan? Apakah mereka tidak dinasehati oleh orangtua atau guru-guru mereka untuk berperilaku baik terhadap siapapun? Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan orangtua/guru dari pelaku, karena saya yakin bahwa tidak satu pun dari mereka mengajarkan anak/muridnya hal yang tidak baik. Saya rasa pembully belum mengerti tentang autis dan menganggap hal ini adalah suatu hal yang wajar untuk dijadikan bahan candaan.

Kenapa perilaku anak jaman sekarang agak sulit untuk dikontrol? Sewaktu saya masih kecil, saya tidak pernah menemukan kejadian seperti ini, semua aman, tentram dan terkendali. Tidak pernah ada kejadian, contohnya; murid sekolah A beradu mulut/saling mengolok dengan murid sekolah B karena hal yang tidak penting dan berujung perselisihan, justru sebaliknya, hal tersebut dapat memperluas pertemanan. Mungkin pernah saja ada, tapi saya tidak tahu karena mungkin saya adalah tipe anak rumahan atau dulu belum ada gadget dan hanya melihat berita sebatas TV saja.

Semasa kecil, saya dan teman-teman sibuk mengikuti kegiatan positif seperti memainkan permainan tradisional, bergabung dengan klub pecinta kesenian dan olahraga, bersepeda di sore hari, yang pasti melakukan kegiatan outdoor dimana kita bisa bebas berekspresi. Tidak seperti zaman sekarang dengan teknologi yang semakin canggih dan beragam, saya perhatikan banyak orangtua memanjakan anak-anak mereka dengan gadget sehingga membuat mereka asyik dengan dunianya sendiri dan tidak lagi punya waktu untuk bermain di luar.

Saya paham bagaimana rasanya jadi korban bullying karena saya pernah mengalami hal tersebut semasa kuliah. Saya pernah dicap/dilabeli dengan kata yang seolah-olah saya ini punya penyakit psikologis yang tidak tertolong lagi, padahal saya hanya ingin berteman. Saya juga pernah disidang, saya duduk di tengah-tengah dan mereka duduk mengelilingi saya seperti seolah-olah saya ini pelaku kriminal yang telah menyakiti temannya dan saya harus memohon maaf dari mereka. Dari dua kejadian tersebut membuat saya jadi tidak tidak percaya diri, lalu saya malas untuk ngampus dan merasa tidak bebas ‘bergerak’ karena khawatir dilabeli ‘bertingkah’ oleh mereka. Saya sedih terus-terusan dan merasa orang-orang di sekitar saya tidak nyaman/merasa terganggu akan keberadaan saya.

Mereka tidak tahu bagaimana heran dan sedihnya Ibu saya saat itu karena perilaku saya berubah menjadi semenyedihkan itu. Saya tidak bermaksud untuk mengungkit kembali kejadian yang pernah saya alami dan telah berlalu, saya memaafkan mereka, tapi sayangnya memaafkan tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi.

JADI, TOLONG, HENTIKAN SEMUA BENTUK BULLYING YANG MEMOJOKKAN ORANG LAIN, BAIK ITU DI DUNIA MAYA MAUPUN DI DUNIA NYATA!!

Karena sama sekali tidak berguna dan mungkin saja suatu hari kalian membutuhkan pertolongan orang yang pernah kalian bully atau tidak menutup kemungkinan kalian akan mengalami hal yang serupa dikemudian hari. Saya percaya bahwa roda kehidupan selalu berputar, tidak selamanya kita ‘di atas’. What you give, you get, so as a human being always be kind and treat people equal. 🙂

Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s