Farewell, Chester Bennington

Checking news portal everytime I woke up in the morning become one of my routine before starting the day and I do it for every single day. It was on last Friday, I checked the Twitter timeline to update what’s going on. The Linkin Park’s frontman, Chester Bennington, was becoming number one world hastag that day. Then I opened all of the news that linked to him. I was shocked. Mr. Bennington has passed away. He was tragically found dead by hanged himself from a bedroom door at his own home. I’m devastated. 😥

According to the news, Mr. Bennington revealed his complex battle with depression in his final interview before he committed suicide. They informed that when he was a kid, he had been molested by an older male friend, being sexually abused as a seven years old, then his parents divorced when he was eleven, he also had history of drugs and alcohol abuse. Such a desolate childhood. I coulnd’t imagine how he had survived during that situation.

I am a big fan of the band since I was in junior high school. I grew up with their songs. I love their musics and lyrics they created, and its genuinely awesome. They’re such a genius band that you can barely find in recent showbiz world.

I have been mourning that day and my heart broke into million pieces, literally. I may not know him personally, but he lives in my heart and mind since then. Now I realized that all of the songs they’ve created are about depression that might happened to his/their life. I love you, Chester. We all do! You helped us to go through the hardest part of our life when we couldn’t brave enough to speak up as a teenager. You such an inspiration person.

My heart goes out to his family, friends, and Mike Shinoda/Brad Delson/Joe Hahn/Dave Farrel/Rob Bourdon. May your soul rest in peace, Sir.

CHESTER.jpg

linkinpark

Advertisements

Contemplation of being late 20s

Hi July, finally we meet again.

July is the middle month of a year. The month of independence day of Uncle Sam. The month which students get their summer break which they may spend with their loved ones. The perfect month for Bules to get their skin tanned in Bali. The month when my Mum gave birth to a girl whom owned this blog. The month that happen to be my birthday which I don’t really like when people congratulate me, because I’m getting old. Honestly, I don’t really like this month. I don’t like the sunny kinda weather, because I’ll get sweat a lot. It’s also not a perfect month to contemplate or to look back to the past years and think about what I had or had not achive in my life.

Everyone must be have a long list of purposes to be achieved in their life. I have no idea, I don’t have any particular goals to be achieved. I think I’m too much enjoying my life as I am now like working from 8.30 am to 4.30 pm, then returned home, taking shower, buying dinner, watching tv or movie until fall asleep, then wake up again in the next morning and do the same thing again like yesterday. So boring.

Sometimes in life, we are busy picturing what we thought we wanted our future to be. Walking the path that will lead us towards it, but in the middle of it we realize that it’s not the life we really want. When reality hits, we have to deal with it.

I have a good job which sometimes I’m able to watch a movie or browsing some rubbish on the internet during working hours. The job which help me to pay my bills. The job which help me to buy things I want. I have people whom I call home to always cheer me up every time the things didn’t go I wanted to. I have a best friend who is like a sister I never had and really understanding about how weird I am to be friend with. I have a cousin which living in France but she never leaves me even I’m in my lowest point. I think that’s the only goal I have for life, being surrounded by people who care about my existence. I’m not only happy, I am content. Thanks, God.

 

 

Stop Bullying

Akhir-akhir ini di media sosial sedang ramai membahas bullying. Bullying ini sebenarnya kata yang berasal dari bahasa Inggris. Merujuk pada Kamus Bahasa Indonesia ke Inggris, arti kata bully adalah perundungan. Namun, penggunaan kata perundungan sepertinya tidak populer dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat awam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-5, rundung memiliki arti sebagai berikut:

run.dung

[v], m.run.dung v (1) mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru; (2) menimpa (tt kecelakaan, bencana, kesusahan, dsn): ia tabah atas kemalangan yang telah ~nya.

Perundungan artinya suatu perlakuan yang mengganggu, megusik terus-menerus dan juga menyusahkan. Jadi bully adalah kata serapan atau biasa disebut dengan kata pungutan atau pinjaman yaitu kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang telah terintegrasi ke dalam bahasa Indonesia dan telah diterima luas oleh masyarakat umum.

Sepertinya berita soal bullying selalu terus muncul. Pekan lalu ada beberapa berita mengenai bullying yang viral di media sosial. Berita pertama adalah bullying yang dilakukan oleh siswi SMP terhadap siswi kelas VI SD yang berlokasi di Thamrin City. Kejadian tersebut berawal karena adu mulut yang entah akar masalahnya disebabkan oleh apa. Dalam video yang viral, disebutkan dua orang pelaku menganiaya korban hingga jatuh tersungkur ke lantai. Saya menonton videonya terkejut, karena si pelaku menjambak rambut korban dengan cara membabi buta. Apakah dia tidak berpikir jika dia di posisi korban dan merasakan bagaimana sakitnya dijambak sedemikian rupa? Apakah dia tidak berpikir jika pihak sekolah dan orangtua akan tahu mengenai hal ini? Sekarang apa jadinya? Pelaku sudah dikeluarkan dari sekolah. Bukannya meraih prestasi sebanyak mungkin, dia malah membuat orangtuanya malu.

Kemudian berita bullying yang juga viral adalah, segelintir mahasiswa di salah satu universitas di Depok mem-bully temannya yang autis. Saya tidak habis pikir, mengapa masih ada orang yang setega itu mem-bully orang yang berbeda dari dia. Apakah mereka tidak diajarkan bahwa sebagai manusia makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna wajib memperlakukan manusia secara manusiawi? Jangankan sesama manusia, dalam ajaran agama saja kita diajarkan untuk mengasihi makhluk hidup lainnya. Apakah mereka tidak berpikir bagaimana susahnya, ribetnya, sebesar apa pengorbanan orangtua membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus ini? Menyandang status sebagai mahasiswa ternyata tidak cukup mengubah seseorang untuk berperilaku santun.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, kira-kira hal apa sih yang menyebabkan pelaku ini tega memojokkan seseorang yang mereka anggap berbeda dari dia untuk dijadikan bahan candaan? Apakah mereka tidak dinasehati oleh orangtua atau guru-guru mereka untuk berperilaku baik terhadap siapapun? Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan orangtua/guru dari pelaku, karena saya yakin bahwa tidak satu pun dari mereka mengajarkan anak/muridnya hal yang tidak baik. Saya rasa pembully belum mengerti tentang autis dan menganggap hal ini adalah suatu hal yang wajar untuk dijadikan bahan candaan.

Kenapa perilaku anak jaman sekarang agak sulit untuk dikontrol? Sewaktu saya masih kecil, saya tidak pernah menemukan kejadian seperti ini, semua aman, tentram dan terkendali. Tidak pernah ada kejadian, contohnya; murid sekolah A beradu mulut/saling mengolok dengan murid sekolah B karena hal yang tidak penting dan berujung perselisihan, justru sebaliknya, hal tersebut dapat memperluas pertemanan. Mungkin pernah saja ada, tapi saya tidak tahu karena mungkin saya adalah tipe anak rumahan atau dulu belum ada gadget dan hanya melihat berita sebatas TV saja.

Semasa kecil, saya dan teman-teman sibuk mengikuti kegiatan positif seperti memainkan permainan tradisional, bergabung dengan klub pecinta kesenian dan olahraga, bersepeda di sore hari, yang pasti melakukan kegiatan outdoor dimana kita bisa bebas berekspresi. Tidak seperti zaman sekarang dengan teknologi yang semakin canggih dan beragam, saya perhatikan banyak orangtua memanjakan anak-anak mereka dengan gadget sehingga membuat mereka asyik dengan dunianya sendiri dan tidak lagi punya waktu untuk bermain di luar.

Saya paham bagaimana rasanya jadi korban bullying karena saya pernah mengalami hal tersebut semasa kuliah. Saya pernah dicap/dilabeli dengan kata yang seolah-olah saya ini punya penyakit psikologis yang tidak tertolong lagi, padahal saya hanya ingin berteman. Saya juga pernah disidang, saya duduk di tengah-tengah dan mereka duduk mengelilingi saya seperti seolah-olah saya ini pelaku kriminal yang telah menyakiti temannya dan saya harus memohon maaf dari mereka. Dari dua kejadian tersebut membuat saya jadi tidak tidak percaya diri, lalu saya malas untuk ngampus dan merasa tidak bebas ‘bergerak’ karena khawatir dilabeli ‘bertingkah’ oleh mereka. Saya sedih terus-terusan dan merasa orang-orang di sekitar saya tidak nyaman/merasa terganggu akan keberadaan saya.

Mereka tidak tahu bagaimana heran dan sedihnya Ibu saya saat itu karena perilaku saya berubah menjadi semenyedihkan itu. Saya tidak bermaksud untuk mengungkit kembali kejadian yang pernah saya alami dan telah berlalu, saya memaafkan mereka, tapi sayangnya memaafkan tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi.

JADI, TOLONG, HENTIKAN SEMUA BENTUK BULLYING YANG MEMOJOKKAN ORANG LAIN, BAIK ITU DI DUNIA MAYA MAUPUN DI DUNIA NYATA!!

Karena sama sekali tidak berguna dan mungkin saja suatu hari kalian membutuhkan pertolongan orang yang pernah kalian bully atau tidak menutup kemungkinan kalian akan mengalami hal yang serupa dikemudian hari. Saya percaya bahwa roda kehidupan selalu berputar, tidak selamanya kita ‘di atas’. What you give, you get, so as a human being always be kind and treat people equal. 🙂

Sekian.