Tanpa Smartphone

Kali ini saya akan menceritakan tentang perjuangan saya tanpa menggunakan Smartphone beberapa tahun yang lalu. Tsaahh!

Sewaktu saya kuliah dulu, smartphone yang paling canggih yang pernah saya punya adalah Blackberry, karena pada masa itulah Blackberry sedang berada di puncak kejayaannya. Saya menggunakan BB mostly hanya untuk BBM-an dan Twitter-an. Saya tidak suka mengakses Facebook dari BB karena layarnya terlalu kecil, apalagi untuk membuka blog. Setelah beberapa kali ganti BB dengan seri terbaru dan ujung-ujungnya selalu rusak/hilang, akhirnya saya menyerah untuk menggunakan BB dan memutuskan untuk menggunakan hp Samsung which is itu adalah hp hadiah dari Tv flat yang saya beli, dan fungsinya hanya untuk sms dan telepon. As simple as it is.

Dulu saya bangga akan diri saya sendiri, kenapa? Karena di jaman teknologi yang lagi gencar-gencarnya melakukan inovasi, saya bisa bertahan tidak menggunakan Smartphone selama kira-kira dua tahun. Saya juga heran, ternyata saya bisa juga melewati tantangan itu. Kira-kira ada gak ya orang yang bisa bertahan selama itu tanpa menggunakan smartphone? Saya sih ragu, tapi mungkin saja ada.

Alasan kenapa saya memutuskan untuk tidak menggunakan smartphone saat itu adalah karena saya bermaksud untuk mengukur sejauh mana ketergantungan saya terhadap barang tersebut. Selain saat itu status saya juga masih mahasiswi, pastinya belum bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk membeli gadget canggih. Alasan lainnya adalah bagaimana saya harus bisa melatih diri saya sendiri untuk menurunkan gengsi karena saya tidak punya smartphone sama sekali which is di setiap sudut mana pun yang saya amati semua orang sibuk dengan gadgetnya masing-masing, dan itu…. lumayan berat. Dulu saya pikir untuk stay in touch dengan keluarga, pacar dan temen-temen tidak harus punya smartphone, untungnya dulu masih ada talk mania (TM) dan kebetulan temen-temen dan keluarga saya di Makassar kebanyakan pengguna Tlkmsl, Lagi pula saya juga sudah dewasa dan menyadari kalau saya sudah terlalu banyak menyusahkan orangtua.

Contohnya waktu masih SMA, saya adalah pengguna setia N*kia, setiap ada keluaran seri terbaru, saya selalu merengek kayak anak kecil meminta untuk dibelikan dan hebatnya lagi beberapa hari kemudian apa yang saya inginkan terkabulkan. Setelah saya pikir-pikir lagi betapa egoisnya saya dulu, tidak memikirkan bagaimana susahnya Papah saya kerja banting tulang untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Saya mengambil hikmah dari masa-masa ini, I mean, setiap apa yang saya minta ke orangtua dan langsung dikabulkan membuat saya tersadar bahwa saya tidak boleh terus-terusan seperti itu. Saya juga berpikir jika suatu saat nanti saya memiliki anak, saya harus lebih bijak dari ortungtua saya dalam mendidik anak-anak saya kelak, harus lebih hati-hati lagi dalam mengenalkan mereka dengan teknologi.

Saya merasa selama saya tidak bergantung dengan smartphone, keseharian saya jadi jauh lebih bermakna, misalnya; saya jadi lebih banyak membaca buku dan artikel berita/blog-blog yang isinya bermanfaat (ini bacanya pake notebook ya), saya jadi lebih sering mampir ke toko buku ntah itu untuk mengecek buku apa yang lagi best seller atau menambah koleksi buku di rumah, intensitas berinteraksi dengan keluarga di rumah jadi lebih meningkat, kalau ‘nongkrong’ dengan temen-temen, saya lebih sering memerhatikan mimik wajah dan gerak tubuh mereka ketika mereka menceritakan/mengungkapkan sesuatu, yaah walaupun masih ada juga sih beberapa temen lain yang sibuk dengan smartphonenya, dan biasanya anak-anak yang ngobrol face-to-face ini hpnya tidak canggih. Hahaha.. Dan terakhir saya jadi lebih peka dengan keadaan sekitar, misalnya kalo ada orang tiba-tiba kepleset jadi bisa gue tolong. Gitu.

Beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk membeli smartphone. Awalnya saya tidak terdistraksi, mungkin karena terbiasa tanpa smartphone. Tapi lama-lama akhirnya tangan saya ‘gatal’ untuk mengutak-atik sosial media yang lagi ngetrend jaman sekarang ini. Platform sosial media yang menghubungkan dengan netizen dari berbagai belahan dunia pun semakin beragam. Mulai dari Facebook, Twitter, lalu muncul Instagram, Path, beberapa messenger keluaran terbaru setelah BBM seperti Line dengan sticker lucunya, Whatsapp dan aplikasi lainnya yang tidak saya hapal namanya. Untuk saya pribadi, saya sangat memaksimalkan komunikasi  dengan menggunakan Whatsapp dan email, kalaupun untuk komunikasi dengan pemilik online shop, saya menggunakan Line supaya obrolan saya dengan orang-orang terdekat/teman-teman tidak tercampur. Saya punya akun beberapa sosial media yang lagi ngetrend, mungkin memang dasarnya saya lebih suka jadi pemerhati ketimbang jadi pelaku, sehingga sosmed yang saya punya tidak update alias I totally have no idea apa yang mau saya posting, toh saya juga bukan siapa-siapa yang orang-orang musti apresiasi dengan apa yang saya share di sosmed. Yang jelas saya menggunakan smartphone semata-mata untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekat yang tinggal beda kota dengan saya, update berita setiap hari dan tentunya sebagai tempat untuk belajar akan hal-hal yang tidak saya dapatkan di luar dunia maya.

Prinsip saya, sah-sah saja punya smartphone asal jangan sampai membuat kita kecanduan, karena banyak hal lain yang bisa kita lakukan/temukan tanpa smartphone. Smartphone memang membuat kita terdistraksi dari hal nyata di sekitar kita, hal itu tergantung kitanya saja bagaimana untuk lebih bijak lagi agar smartphone yang kita miliki tidak membuat kita mudah terbawa arus dengan hal-hal yang tidak berfaedah.

Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s