Random thought

My life merely full of jokes and there’s nothing to tell about. But living faraway from my parents is kind of a not-so new challenge for me. I once stayed faraway from them when I was studying in college several years ago, but I could go back home regularly like once in a month, because we were living on the same island. Time have always taught me about life.

Pada tulisan kali ini sebenernya gue mau curhat sedikit tentang bagaimana sih seharusnya orangtua saat ini mendidik anak mereka? Kekhawaitran orangtua terhadap anak-anaknya begitu besar. Mama pernah bilang, bahwa tidak ada satupun orangtua yang mau anak-anak mereka hidup menderita, sebisa mungkin mereka akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pada umumnya orangtua di Indonesia sangat takut melepaskan kita (khusunya perempuan) untuk ‘keluar rumah’ diusia  antara 18-20 tahun. Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor, salah satu faktornya biasanya dan bisa saja ketakutan mereka akan hal-hal yang dianggap tabu.

Misalnya pandangan mereka terhadap perempuan yang merokok. Mereka menganggap bahwa perempuan perokok  hanya ada di klub malam, which means klub malam adalah tempat untuk orang-orang yang ‘gak bener’, bagi mereka. Lalu apa bedanya dengan laki-laki yang merokok? Padahal yang membedakan laki-laki dan perempuan hanya jenis kelamin saja. Seseorang yang memutuskan untuk merokok adalah haknya, bukan berarti kita bisa seenaknya menghakimi dan menilai dia tidak baik. Toh yang akan mengalami efek buruknya adalah mereka sendiri, kecuali mereka merokok di dekat kita lalu nyembur asap rokoknya ke wajah kita sehingga membuat kita mau gak mau menghirup asapnya.

Beberapa temen gue yang merokok memang butuh rokok sebagai penunjang kreatifitasnya, which is pendapat ini gak bikin gue serta merta setuju dengan pendapatnya. Mungkin saja zat nikotin yang terkandung dalam sebatang rokok bisa memacu untuk menimbulkan ide-ide cemerlang? Ntahlah, gue tidak mengerti. Temen #1 beralasan bahwa dengan merokok dia bisa meningkatkan konsentrasi ketika sedang mengerjakan sesuatu. Alasan temen #2 adalah karena khawatir tiba-tiba penyakit alzhaimernya kambuh? Ntah yang ini hanya candaan saja atau memang ada. Temen #3 beralasan karena dia merasa hidupnya tidak lengkap kalau dalam sehari tidak menyentuh rokok. Temen gue yang merokok banyak, tapi nggak gue tanyain satu persatu, cukup 1-2 orang aja.

Jaman sekarang perempuan perokok udah tidak segan lagi untuk merokok di depan umum, jadi kenapa hal seperti ini masih dianggap tabu ya? Toh fenomena ini sudah sering terlihat.

Well, setiap orangtua pasti mendidik anaknya dengan cara berbeda-beda, apalagi kalau dibandingkan dengan didikan orangtua yang budayanya masih berkiblat dengan budaya ketimuran. Teman dari seorang teman di Eropa sana pernah bercerita bahwa temannya yang notabenenya adalah seorang Ibu memberikan alat kontrasepsi kepada anak gadisnya yang masih berusia 16 tahun. Kekhawatiran seorang Ibu tersebut adalah, jika ketika anaknya melakukan hubungan intim dengan kekasihnya tanpa menggunakan alat pengaman otomatis (mungkin saja) anak tersebut akan hamil, sementara dia masih menjalankan pendidikannya dan masih di bawah umur. Mungkin beberapa dari kita menganggap bahwa melakukan hal intim sebelum menikah adalah hal yang sangat tabu/tidak wajar/apapun itu you name it (saya mengatakan beberapa karena sebagian sudah menganggap hal ini bukan lagi hal yang tabu karena faktor kebutuhan bilogis), bahkan temen saya yang notabenenya adalah warga negara yang sama dengan temannya pun berasumsi bahwa hal tersebut adalah hal yang ‘sedikit gila’ karena mengizinkan anak gadisnya yang masih di bawah umur untuk melakukan hubungan intim. Dari cerita ini gue bisa menilai bagaimana seorang Ibu di negara barat sana lebih memprioritaskan pendidikan dibanding hal biologis yang mereka anggap (mungkin) sepele. Kita semua tentu saja tahu bahwa di luar sana seks merupakan kebutuhan biologis semata.

Namun dari cerita di atas bukan berarti gue akan melakukan hal yang  serupa ke dengan anak gue di masa mendatang. Kalau menurut pandangan gue, orangtua di sana mendidik anak-anak mereka untuk mandiri sejak dini adalah hal yang positif dan sangat menguntungkan bagi anak-anak tersebut. Kenapa? Karena pertama, otomatis mereka belajar untuk hidup tidak bergantung lagi kepada kedua orangtua. Kedua, mereka belajar untuk lebih bersabar dalam mengejar sesuatu yang mereka inginkan at least mereka bisa dapetin dengan hasil jerih payah mereka sendiri. Ketiga, mereka belajar untuk menyelesaikan masalah tanpa melibatkan orang lain terutama orangtua. Keempat, pola pikir mereka akan terbentuk dengan sendirinya, menjadi lebih kreatif, terbuka, kritis dan berkembang karena mereka tidak lagi ‘terkurung’. Kelima, mereka akan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Dan keenam, dengan sendirinya mereka bisa menentukan pilihan mereka sesuai dengan kemauan mereka (karena menurut gue, cita-cita anak di Indonesia adalah cita-cita orangtua), mau jadi apa mereka kelak, apa yang mereka senangi, dan bagaimana caranya bertahan hidup dengan kemampuan yang mereka punya semua tergantung dari diri mereka dan skill apa yang mereka punya. Keren kan?

Imho, dengan didikan seperti itu otomatis mereka jadi lebih mudah untuk mandiri dan tidak lagi bergantung dengan orangtua (baca: gak manja). Mereka bisa survive dengan cara mereka sendiri, tinggal merekanya saja yang mau memilih jalan hidup dengan hal yang positif atau negatif, dan sebagai orangtua sudah tidak perlu ikut campur dalam menentukan pilihan hidup si anak. This is called human rights. If the time machine does exist, I would like to ask my parents to not to spoil me with everything that is not necessary. It means, gue tidak perlu banyak mengeluh diusia gue mendatang. Hehe..

Sesuatu yang dibiasakan sejak kecil ternyata memang membawa dampak yang begitu besar di masa mendatang. Sering terlintas di pikiran gue, gimana seharusnya gue mendidik anak-anak gue kelak? Sementara perkembangan teknologi dari waktu ke waktu semakin maju. Salah satu yang menjadi kekhawatirn gue adalah, ketika gue perhatikan anak-anak zaman sekarang, di usia yang masih dini, mereka sudah dikenalkan dengan teknologi dibanding dengan hal-hal yang sifatnya lebih ke alamiah. Hal ini jadi membuat gue jadi merasa serba salah salah jika nanti anak-anak gue tidak dikenalkan oleh teknologi dan tiba-tiba mereka terlibat dalam kelompok anak-anak dengan hasil ‘didikan’ teknologi. Kemungkinan yang terjadi adalah mereka akan merasa minder dan berontak lalu menyalahkan orangtua mereka karena tidak mengenalkan mereke dengan teknologi.

Then, what am I supposed to do later? I still couldn’t find the answer yet. It already freaks me out. 

Zaman sekarang sudah banyak buku-buku yang tersedia dalam bentuk e-book, which means we can download it through the internet. Again, technology take part! Tidak ada yang bisa mengontrol kita ketika kita sudah asyik berselancar di dunia maya. Internet memudahkan kita untuk lepas dari rasa keingintahuan. Semua bisa didapatkan dengan sekejap. Gue yakin suatu hari nanti toko buku akan kehilangan pengunjungnya, tidak ada lagi kegiatan berkunjung ke perpustakaan (well, sekarang saja kita sudah tidak pernah lagi ke perpustakaan). Yaa gimana kita bisa betah duduk berlama-lama di perpustakaan kalau tempatnya saja tidak terawat dan petugas malas membersihkan debu-debu yang berterbangan di buku-buku dan rak-rak.

Dan yang menjadi ketakutan terbesar gue adalah, ketika nanti intensitas pertemuan tatap muka akan dihalangi oleh teknologi. Mungkinkah nanti kalau gue sudah berkeluarga meskipun kami tinggal dalam satu atap, kami akan berkomunikasi via Skype? Jawabannya adalah, mungkin saja.

Percayalah, dunia ini sudah mulai gila.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s