Jerman pernah menjadi tujuan saya

Pagi ini gak seperti biasanya, gue terbangun dengan perasaan iri. Kenapa? Tadi, gue iseng ngebuka Instagram salah satu temen gue yang ulang tahun hari ini. Gue adalah tipe orang yang gampang banget nginget tanggal penting untuk orang-orang yang berhak atas perthatian gue. Tadinya gue mau ngucapin selamat dulu, tapi gak taunya malah keterusan dan nemuin komen temen lamanya yang lagi sekolah di Jerman.

german-flag

Gue terdiam setelah ngebaca komen dari temennya itu dan iseng ngebuka akun Instagramnya yang ternyata penuh dengan foto-fotonya di Jerman. Sejak kecil Jerman adalah negara impian gue dan guea pun bertekad untuk melanjutkan studi di sana. Nyokap bokap sih ngedukung kemauan muluk gue itu (yang gak mungkin kecapai), asal gue mampu. Dulu gue juga sempet kenalan dengan temen Mama yang pernah melanjutkan studi di Jerman. Beliau juga ngedukung tekad gue. Dia nyeritain beberapa pengalamannya, gimana karakter orang asli Jerman, lingkungan dimana dia tinggal, gimana dia bertahan hidup karena sangat jauh dari keluarga, sampe suatu hari dia ngasih gue buku-buku berbahasa Jerman. Saat itu gue senenggg banget dan semakin antusias untuk belajar bahasa Jerman. Dulu, bahasa Jerman menarik banget buat gue, sampe gue mati-matian ngapalin salah satu lagu berbahasa Jerman. Awalnya gue kesulitan untuk menghapal, mungkin karena gak kebiasa dengan pengucapan yang aneh, tapi akhirnya gue berhasil.

Menurut gue untuk ngelanjutin studi di negara orang itu gak gampang. Selain karena kendala bahasa, keterampilan akademis juga sangat diperlukan. Gue yang ngerasa isi kepala gue pas-pasan lalu mengurungkan niat ini. Gue termasuk orang yang gak pede, gue ngerasa gue gak mampu untuk ngikutin kurikulum pendidikan di negara Eropa.

Emang sih, seharusnya segala usaha gak terhenti gitu aja karena beberapa hal yang dapat mematahkan semangat. Perlu ada niat dan keyakinan yang kuat dari dalam diri kita sebagai pondasi untuk menggapai keinginan. Gue sadar, kemampuan akademis gue yang di bawah standar ini, gak mungkin bisa ngebawa gue ke negara-negara impian. Tapi gue iri sama beberapa orang-orang yang beruntung dianugerahi otak yang cemerlang sehingga mereka bisa melanjutkan studi di negara impian mereka. Tapi, ada Allah, gak ada yang gak mungkin.

So, can I try it again?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s