Flipped (2010)

Madeline Caroll yang memerankan Julianna Baker di film ini menemukan cinta pertamanya pada saat seorang anak lelaki seumurannya pindah bersama kelurganya ke rumah yang terletak tepat di seberang  jalan rumahnya. Lelaki itu bernama Bryce Loski (Callan McAuliffe). Juli kecil mendambakan ‘first kiss’-nya dengan Bryce. Namun Bryce tak pernah sekalipun meresponnya karena merasa risih dan menjadi bahan olokan teman-teman mereka di sekolah.

Suatu hari, Juli muncul di artikel halaman depan koran lokal yang menarik perhatian kakek Bryce, Chet Duncan (John Mahoney). Dalam artikel tersebut tertulis bahwa seorang anak gadis murid SMP menolak untuk turun dari pohon Sycamore yang akan ditebang oleh kontraktor atas permintaan pemilik rumah. Pohon tersebut letaknya hanya beberapa blok dari rumah mereka dan selalu menjadi tempat persinggahan bus sekolah. Semangat dan gairah hidup gadis kecil yang tinggal di seberang jalan membuat Chet teringat akan mendiang istrinya.

NYT2010082609544146C
Gaya pedekate Juli yang membuat Bryce risih. | Sumber foto

Sejak pertama berkenalan, Bryce sudah ilfeel dengan Juli dan selalu berusaha mencari cara untuk menghindari Juli. Bryce berpura-pura berpacaran dengan gadis terpopuler di sekolah. Dengan kesengajaannya, Bryce melakukan banyak hal untuk membuat Juli kecewa. Mulai dari tidak membela Juli pada saat pohon Sycamore ditebang, membuang semua telur-telur hasil ternak ayam peliharaan Juli, hingga mengejek paman Juli yang cacat mental. Hal tersebut menyadarkan Juli bahwa orang yang selama ini ia dambakan bukanlah seseorang yang sangat berarti.

52723dfe774c1eca22d050979906323d
Sumber foto

Beberapa kejadian membuat keadaan menjadi terbalik. Akhirnya Juli pun berhenti menggubris Bryce dan menghindar ketika Bryce muncul di hadapannya. Bryce merasa kehilangan. Pada saat di laboratorium, Bryce kepergok oleh sahabat Juli sedang memperhatikan Juli diam-diam. Ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada dan menggelitik perutnya.

***

Film berlatar tahun 1957 yang disutradarai oleh Rob Reiner mengajak kita bernostalgia kembali ke masa dimana kita–khususnya perempuan, pertama kali menyukai lawan jenis. Saya jadi teringat akan teman sekelas saya yang paling menonjol. Bagaimana tidak, dia pintar, selalu menduduki rangking pertama, selalu ditunjuk menjadi ketua kelas oleh guru-guru, tampangnya pun enak dilihat (pada masanya), karakternya yang pendiam menambah poin plus pada dirinya, dan tentu saja ada sederetan gadis yang menyukainya–termasuk saya. Pada masa itu saya belum mengerti akan kata sayang, apalagi cinta, hanya saja ketika melihatnya saya selalu tersipu malu. Film dengan genre drama komedi ini digarap secara apik oleh Reiner menggunakan dua sudut pandang dari seorang anak perempuan dan laki-laki sehingga membuat penonton tidak cepat merasa bosan walaupun ada beberapa scene yang berulang. Film ini dapat dinikmati oleh semua usia karena tidak ada adegan ciuman. Ceritanya mengalir secara natural dan berhasil membuat saya menonton berkali-kali. Dan untuk soundtrack, film ini diisi dengan band-band yang tenar pada masanya termasuk The Everly Brother yang berhasil membuat saya makin cinta sama film ini.

Ada satu kutipan yang menjadi favorit saya dari film ini:

“Some of us get dipped in flat, some in satin, some in gloss; but every once in a while, you find someone who’s iridescent, and once you do, nothing will ever compare.” – Chet Duncan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s